eskalisa.sch.id
Main Menu
HOME
SIAKAD ONLINE
PROFIL SEKOLAH
GURU & KARYAWAN
FASILITAS SEKOLAH
EVENT & ACARA
PRESTASI SEKOLAH
PRESTASI SISWA
SISWA BERPRESTASI
BERITA & ARTIKEL
EKSTRAKURIKULER
GALERY PHOTO
PENGUMUMAN
CONTACT US
SEARCH
DOWNLOAD
LINK KELUAR
BUKU TAMU
Fanspage FB
Latest Comment
Pramuka
wowww , hebat smiley (y)
Studi Tour Kelas 5 Tahun 2012
nggak jadi ke Lanud Abduracham Saleh huhuhu :"(
Pramuka
asik2, kapan lagie acara latgap Galang
Studi Tour Kelas 5 Tahun 2012
hmmm...smiley
Google Adsense

HOME arrow BERITA & ARTIKEL arrow AGAMA arrow Memaksimalkan Fungsi Agama Moderat
Memaksimalkan Fungsi Agama Moderat PDF Cetak E-mail
Tuesday, 11 October 2011
Memaksimalkan Fungsi Agama Moderat

 

Oleh : Mashudi Umar

Sumber: http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=338:memaksimalkan-fungsi-agama-moderat&catid=35:materi-artikel&Itemid=56


 

Ruangan Aula MUI di Lt IV penuh dan ramai peserta yang datang dari beberapa unsur. Sabtu, 06 Nopember 2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional menyelenggarakan Halaqah Penanggulangan Terorisme (Peran Ulama Dalam Mewujudkan Pemahaman Keagamaan Yang Benar) yang dihadiri oleh ormas-ormas Islam, pimpinan pondok pesantern, pimpinan lembaga dakwah baik dai maupun khatib.

Ketua panitia, Wahyu Muryadi, menyatakan bahwa acara ini diselenggarakan bukan berarti kita mengesampingkan acara kemanusiaan seperti Tsunami di Mentawai dan letusan gunung Merapi. Acara ini sudah teragendakan jauh sebelum musibah itu terjadi. Fenomena terorisme bercirikan radikalisme dengan alasan apapun tidak dibenarkan, baik dalam kerangka hukum positif maupun dalam perspektif keagamaan.

“Cara-cara kekerasan yang telah banyak merenggut korban jiwa, harta benda, telah merenggut hak hidup dan ketentraman masyarakat. Untuk itu terorisme dalam berbagai bentuknya harus ditanggulangi dan dicegah melalui program deradikalisasi,” kata Wahyu.

Tempat acara halaqah ini nanti berlanjut ke Bandung, Surabya, Jawa Timur, Solo, Jawa Tengah, Palu, Sulawesi Tengah dan Medan, Sumatra Utara.

Ketua MUI KH. Makruf Amin menyatakan kita akan menggali lebih dalam kaitan antara aktivitas terorisme dan peran ulama dalam mewujudkan pemahaman keagamaan Islam yang benar.

Menurut kiai Makruf, salah satu penyebab lahirnya aktifitas terorisme adalah adanya pemahaman yang salah tentang teks dasar Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Ajaran Islam telah dipahami secara tidak tepat, sehingga melahirkan perilaku salah dan menyimpang yang jauh dari nilai-nilai dan tuntunan Islam sebagai ajaran rahmatan lil’alamin. “Jadi kita harus memakai Islam rahmatan lil’alamin atau Islam tawassutiyah (moderasi),” ujar kiai Makruf didepan peserta halaqah.

MUI, lanjut kiai Makruf tentu amat sedih dan masygul. Bagaimana mungkin ajaran Islam yang agung dan damai serta mencerahkan telah melahirkan perilaku durhaka dan merusak. Sebagai umat mayoritas di negeri ini, kita memikul tanggungjawab yang besar untuk menjaga dan mengembangkan kehidupan kebangsaan yang rukun, damai, harmonis dan kondusif.

Dalam pandangan kiai Makruf, tugas utama ulama adalah meluruskanpemahaman yang menyimpang yaitu radikalisme, liberalisme dan tekstualisme. Radikalisme sangat berbahaya karena berujung pada terorisme. Jadi jihad itu bukanlah terorisme dan terorisme itu bukanlah jihad. Dengan kata lain, bahwa ajaran Islam tentang jihad tidak ada kaitannya dengan pengertian terorisme.

“Saya sering disebut kiai teroris dan kiai porno, karena sering bicara teroris apalagi sebagai Ketua Tim Penanggulangan Terorisme, begitu juga tentang marak-maraknya isu porno” paparnya yang disambut tawa hadirin.

Sementara Keynote speecher dalam halaqah ini Menko Polhukam, Marsekal (Purn) Djoko Suyanto yang dibacakan oleh Irjen Pol Drs. Ansyaad Mbai bahwa halaqah terorisme ini penting dilakukan, mengingat terorisme sudah sangat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia berharap akan peran ulama, pimpinan pondok pesantren, para dai untuk meluruskan makna keagamaan islam yang benar yang penuh toleransi dan perdamaian. Pemerintah tentu tidak bisa sendirian dalam menanggulangi terorisme, oleh karena itu, ia mengajak partisipasi bahkan berkewajiban masyarakat membantu ikut menanggulangi dan meluruskan makna jihad itu sendiri.

Dalam halaqah ini sebagai pembicara pertama adalah Irjen Pol (Purn) Drs. Ansyaad, Mbai, MM (Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dalam paparannya bahwa terorisme adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Maka diperlukan upaya luar biasa dalam menanganinya. Karena tujuan terorisme aktual itu dari hasil investigasi dapat diketahui dengan jelas yaitu pembentukan khilafah Islamiyah/daulah Islamiyah (JI) dan penerapan syariat Islam.

Sasaran strategi terorisme, lanjut Ansyaad, pertama, menunjukkan kelemahan pemerintah. Kedua, memancing konflik meluas horisontal dan vertikal. Ketiga, memancing reaksi represif aparat pemerintah dan mendiskreditkan pemerintah, keempat, menarik simpati publik dan kelima, menggunakan media massa untuk menyebarluaskan propaganda dan ideologi teroris.

Ansyad menyatakan bahwa gerakan deradikalisasi adalah puncak dari gerakan terorisme. “Selama ideologi radikal mereka tidak bisa dinetralisir, selama itu pula mereka terus melakukan aksi. Pengalaman internasional, lihat situasi afghanistan dan irak,” papar Ansyad penuh semangat.

Untuk itu, Ansyad, menawarkan untuk menanggulangi ancaman terorisme dengan memberdayakan tokoh-tokoh moderat agama untuk menyebarluaskan ajaran moderatnya yang dimotori oleh NU dan Muhammadiyah. Juga rehabilitasi para teroris apada masa penahanan dan setelah menjalani hukuman.

“Salah jika menuduh pesantren sebagai sebagai satu-satunya tempat untuk membentuk teroris. Terorisme justru sulit masuk ke kurikulum pesantren,” tegas Ansyaad. ia juga menilai penyusupan ajaran radikal semakin luas, sudah masuk hingga ke perguruan tinggi elite, bukan perguruan tinggi pinggiran. Bahkan menyusup ke perkantoran dan mempengaruhi karyawan. Begitu juga dengan sasaran ajaran radikal yang masuk ke jurusan eksakta dan sains di perguruan tinggi favorit.

Oleh karena itu, lanjut Ansyaad, peran ulama sangat dibutuhkan untuk deradikalisasi pemahaman keagamaan. Cara-cara kekerasan tidak bisa dilakukan lagi karena justru akan memperkuat perlawanan.

Hal tersebut diperkuat juga oleh narasumber dari Mabes Polri, Kombes Pol. Drs. H. Herwan Chaidar (Kabid Pencegahan Terorisme Mabes Polri) bahwa deradikalisasi agama adalah pemicu dari terorisme. Sementara densus 88 ketika menggerebek teroris tidak asal menangkap atau menahan, tapi ada beberapa tahapan yang dilakukan dan berbagai bukti harus valid.

Sementara Dr. Hamka Hazan, Dosen UIN Jakarta menyatakan bahwa memang ada beberapa ayat-ayat keras dalam Al-Qur’an tentang berperang kepada orang kafir yang dijadikan senjata untuk mengkampanyekan makna jihad menurut teroris. Kalau ayat tersebut dipahami sepotong-potong, maka sangat berbahaya bagi umat Islam yang lain.

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 29 February 2012 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Pengunjung

free counters
Statistik
Flash Dynamic Calendar
Shout

Like Facebook

Adsense Indonesia