eskalisa.sch.id
Main Menu
HOME
SIAKAD ONLINE
PROFIL SEKOLAH
GURU & KARYAWAN
FASILITAS SEKOLAH
EVENT & ACARA
PRESTASI SEKOLAH
PRESTASI SISWA
SISWA BERPRESTASI
BERITA & ARTIKEL
EKSTRAKURIKULER
GALERY PHOTO
PENGUMUMAN
CONTACT US
SEARCH
DOWNLOAD
LINK KELUAR
BUKU TAMU
Popular
Polling
Siapakah yang terbaik dari komponen Sekolah ini menurut anda ?
 
Siapakah Guru Idola Anda Bulan ini?
 
Fanspage FB
Template Chooser
newly_weds
Latest Comment
Pramuka
wowww , hebat smiley (y)
Studi Tour Kelas 5 Tahun 2012
nggak jadi ke Lanud Abduracham Saleh huhuhu :"(
Pramuka
asik2, kapan lagie acara latgap Galang
Studi Tour Kelas 5 Tahun 2012
hmmm...smiley
Google Adsense

HOME
Saat Rasulullah Dicekik dan Dilempari Kotoran Binatang
Monday, 01 February 2016

Saat Rasulullah Dicekik dan Dilempari Kotoran Binatang

 

 

Rasulullah bukan sosok pemarah. Banyak yang mencoba mengejek, menyakiti dan melukai, tapi Rasulullah tidak menanggapi dengan api amarah. Rasulullah kadang malah membalas dengan kasih berlebih. Begitu pun ketika si Badui kurang ajar itu mengasarinya. <>Rasulullah tengah berjalan bersama Anas bin Malik, ketika tiba-tiba Arab Badui itu menarik selendang Najran di kalungan lehernya.

Begitu kerasnya tarikan si Badui, Nabi pun tercekik. Anas, seperti tercatat dalam Shahih al-Bukhari, sempat melihat bekas guratan di leher Nabi.

“Hai Muhammad, beri aku sebagian harta yang kau miliki!” teriak si Badui, masih dengan posisi selendang mencekik Rasul.

Apakah Nabi marah dengan sikap si Badui yang mirip preman Tanah Abang ini: berbuat kasar untuk minta ‘jatah’? Hati Nabi terlalu sejuk untuk sekadar diampiri letikan rasa gusar.

Tidak, Nabi justru tersenyum, dan bilang ke Anas, “Berikanlah sesuatu.”

 

 

Itu masih belum seberapa. Nabi bahkan pernah ‘dihadiahi’ kotoran hewan, pada punggung, di saat Nabi sedang sujud dalam shalat. Abdullah bin Mas’ud jadi saksi, yang kemudian direkam pula dalam Shahih al-Bukhari.

Ibnu Mas’ud melihat Nabi tengah bersembahyang di dekat Ka’bah, dan pada saat yang sama Abu Jahl dan gerombolannya duduk-duduk tak jauh dari situ.

“Siapa mau membawa kotoran-kotoran kambing, yang disembelih kemarin, untuk ditaruh di atas punggung Muhammad, begitu dia sujud?”

Abu Jahl berseru pada punakawannya. Satu dari mereka, yang tak lain adalah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, serta Uqbah bin Abi Mu’ith, itu bergerak mengambil kotoran. Mereka tunggu hingga Nabi sampai pada sujud.

Dan benar, sampai ketika Nabi sujud, ditaruhlah kotoran itu di antara dua bahu Nabi. Abu Jahl, punggawa Quraisy yang selalu berupaya menghancurkan Nabi itu, dan gerombolannya menyaksikan dengan tawa keras. Nabi tetap dalam sujud hingga Fatimah az-Zahra membersihkan sembari meneteskan air mata. Tapi Nabi bukan sosok pemarah, bukan pendendam.

Nabi tidak memerintahkan Sahabat-Sahabat untuk membalas balik perlakuan Abu Jahl Cs. Beliau hanya berdoa,  “Allahumma alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy.” Ya Allah, binasakan mereka, bangsa Quraisy yang pongah itu.

Ya, nabi yang pemarah cuma ada di kepala mereka. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang bermuka sangar hanyalah gambar yang lalu lalang di dalam pikiran mereka sendiri. Tapi, siapa sebenarnya yang berperan membangun gambar itu di otak mereka? Bukankah kita? Kita sendiri, ya, kita. Sadar tak sadar, kita diam-diam telah, sedang, dan masih saja berniat melukis Rasulullah dengan sketsa raut wajah garang.

Kita tahu, dan percaya seutuhnya.

 

Sumber: NU Online  dari Majalah Syir’ah edisi 52, ditulis oleh Mutjaba’ Hamdi

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 01 February 2016 )
 
Who's Online
Saat ini ada 1 tamu online
Pengunjung

free counters
Statistik
Facebook
Sdn Kalipang Satu Sutojayan

Buat Lencana Anda
Flash Dynamic Calendar
Shout

Latest News
Like Facebook

Adsense Indonesia